Aku, Mulan dan Kong Kaca
Aku lahir di tengah keluarga pedagang. Ayah punya sebuah ruko di dalam pasar. Para pemilik ruko umumnya pendatang yang kemudian menetap dan menjadi bagian dari komunitas perantau yang heterogen. Lokasi yang kami tempati persis di jantung desa. Di seberang jalan raya yang membelah desa berdiri kantor polisi yang biasa kami sebut tangsi.
Letak ruko kami bersebelahan dengan toko-toko milik Kong Kaca, demikian nama panggilan seorang kakek keturunan Tionghoa yang selalu mengenakan kacamata putih. Di desa kami siapa pun kenal dia. Di samping memiliki banyak toko di bagian depan rumahnya, ia juga punya sawah yang membentang di belakang rumahnya sampai ke dasar lembah, bersebelahan dengan kebun kopi tetangga lain.
Kong Kaca satu-satunya tuan tanah keturunan Tionghoa di desa kami. Laki-laki bertubuh pendek gemuk dan beralis tebal mirip golok itu punya banyak anak. Aku tak tahu persis berapa jumlahnya. Empat anak laki-lakinya yang sudah berkeluarga berdagang di toko-toko di depan rumahnya. Ada seorang anak perempuannya yang kawin dengan laki-laki dari kota dan kalau pulang selalu dengan sebuah mobil sedan, mobil paling bagus yang pernah ada di desa kami. Cucu-cucu Kong Kaca yang masih masih duduk di bangku SD biasanya sangat girang menyambut kedatangan mereka.
Kong Kaca tampak sangat menyukai kegiatan bertani. Setiap hari orang dapat melihatnya berjalan-jalan di pematang sawah dengan sebuah tongkat di tangan kanan dan helm proyek bertengger di kepala. Ia tidak terjun langsung menggarap sawah. Ia hanya mengawasi petani-petani yang diupahnya sambil memberi petunjuk ini dan itu.
Saat musim kemarau, ia tampak semakin sering naik-turun lembah memeriksa sawahnya. Ia tahu, air yang menyembur dari mata air di belakang rumahnya pas-pasan saja untuk mengairi semua sawahnya saat hujan lama tidak turun.
Pernah aku diam-diam mengambil air dari sawahnya untuk menyiram pot-pot bunga di rumah. Baru saja aku menadahkan ember pada air yang mengucur dari mulut pematang, tiba-tiba terdengar teriakan lantang: “Oii…, jangan ambil ail…!” Tanpa tahu di mana ia berada, aku langsung loncat menerobos pagar hidup yang membatasi sawahnya dengan kebun kopi tetangga. Kelakuan itu sering kuulangi, bukan semata karena didesak keadaan, tetapi juga karena rindu mendengar teriakan khas yang tercipta dari lidahnya yang cadel..
Suatu sore pulang dari bepergian, kulihat pot-potku kehilangan semua bunganya yang sedang mekar. Waktu itu rumah memang dalam keadaan kosong. Tetangga memberitahuku bahwa bunga-bunga itu dipetik cucu-cucu perempuan Kong Kaca. Tentu saja aku jadi kesal, tetapi untuk melabrak mereka aku tak punya keberanian. Kalaupun aku berani, sia-sia saja. Tak akan berarti apa-apa bagi mereka.
Pada hari yang lain ketika aku sedang mengelus-elus dua ekor anak anjing, dua cucu perempuan Kong Kaca muncul di depanku. Aku langsung teringat pada pot-pot bungaku yang digunduli. Mereka tampak begitu gemas menyaksikan makhluk-makhluk mungil bertelinga lepek dari ras Kintamani, ras anjing terkenal dan diminati banyak orang. Aku dapat menerka apa yang mereka inginkan.
“Lucu ya?” kata sang kakak.
“Pasti tambah gemuk kalau dikasih susu,” timpal adiknya.
“Buat aku ya, Ar?” pinta mereka hampir bersamaan.
Lama aku terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Maaf, sudah ada yang punya.”
“Siapa?”
“Mulan.”
“Dua-duanya?”
“Satunya lagi kupelihara sendiri.”
Aku merasa senang ketika mereka langsung pergi dengan muka masam.
Tetapi hari berikutnya ganti aku yang cemberut. Kedua makhluk kesayanganku tiba-tiba lenyap. Setelah kucari ke mana-mana, tiba-tiba mereka muncul sambil terkaing-kaing menerobos pagar pekarangan Kong Kaca yang terbuat dari bambu.. Mulut mereka tertutup busa putih. Kupikir keduanya telah terperosok ke selokan di belakang kamar mandi Kong Kaca. Mereka segera kubawa pulang dan kubersihkan. Yang membuatku tak habis pikir, dari mulut mereka terus menerus keluar busa dan selang beberapa saat kemudian keduanya menutup mata. Kukira tidur, tak tahunya mati.
Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya pada Mulan. Ia begitu berminat pada si Poly dan aku telah menjanjikannya. Tak sanggup rasanya aku bertemu dengan sahabat karib adik perempuanku yang sangat baik ini. Ia sering datang ke rumah membawa kue-kue yang dibikinnya sendiri. Ia juga rajin meminjamiku bermacam-macam buku cerita, termasuk cerita-cerita silat Kho Ping Hoo yang sangat kusukai.
Di belakang rumah, di kebun kopi milik tetangga, ada pohon kopi tua yang dahannya rebah dan enak dipakai duduk-duduk sambil membaca. Di sanalah biasanya aku menikmati buku-buku yang dipinjami Mulan tanpa kuatir diganggu orang. Sekali-sekali Mulan menemaniku ngobrol di situ sambil menikmati keriuhan suara burung-burung jalak yang tengah menyantap bunga-bunga dadap. Lama-lama pohon kopi tua itu menjadi semacam tempat pelarian bagiku. Setiap aku membutuhkan suasana tenang, aku pasti pergi ke sana.
Dan kini ke sana juga aku pergi. Belum berapa lama aku nangkring di situ, Mulan sudah duduk di sebelahku dan aku diam saja.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Aku membisu sehingga ia meneruskan, “Kamu tak baca buku, pasti ada yang mengganggu pikiranmu.”
Aku menoleh dan menatapnya sejenak sebelum berkata, “Aku harus minta maaf padamu.”
“Kenapa?”
“Si Poly mati.”
“Apa? Si Poly mati?”
Kuceritakan padanya bagaimana si Poly dan Moni menemui ajalnya.
“Pasti diracun orang,” tanggap Mulan.
“Tahu dari mana?”
“Tadi kamu bilang mulutnya keluar busa.”
Aku jadi ingat sama cucu-cucu Kong Kaca yang menemuiku pada hari sebelumnya. Mungkinkah mereka yang melakukan? Ah, yang sudah terjadi biarlah sudah. Aku merasa tak perlu bercerita pada Mulan mengenai pertemuanku dengan mereka. Salah-salah bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.
Aku merasa lega Mulan tidak mempersoalkan kematian si Poly. Aku merasa semakin suka saja padanya. Begitulah, aku dan dia kian akrab saja. Makin sering nangkring sambil ngobrol di dahan kopi tua di belakang rumah.
Setamat SMP aku meneruskan sekolah ke kota. Mulan sendiri memutuskan untuk membuka toko kue. Ia mengubur keinginannya untuk meneruskan sekolah demi adik laki-lakinya yang ada empat orang.
“Aku ingin mereka maju, Ar,” kata Mulan memberi alasan. “Sebagai anak tertua, aku bertanggung jawab untuk itu.”
Aku terpaku mendengarnya. Tak pernah terlintas dalam pikiranku kalau orang seusia dia telah mampu menanggung beban tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh orang dewasa.
Aku semakin kagum pada sosok Mulan. Sosok yang membuatku selalu berharap liburan datang lebih cepat. Karena pada saat liburanlah aku bisa bertemu dan bercengkrama dengannya di atas dahan kopi di belakang rumah.
Seharusnya aku menyadari bahwa ini hanya sebuah mimpi di siang bolong.hal ini kuhindari, karena aku tahu tak pernah ada kisah cinta antara wanita keturunan Tionghoa dengan pria pribumi di desa kami yang berakhir bahagia.
Tak peduli pada risiko yang akan kutanggung, aku makin rajin menyambanginya sampai akhirnya kami sama-sama menyadari bahwa hati kami telah bertaut. Tetapi, mimpi buruk yang menyergapku datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku meresa terhina sekali ketika mengetahui bahwa Mulan akan dikawinkan dengan salah seorang anak Kong Kaca yang sudah berumur dan agak terbelakang mentalnya.
Sejak itu aku sering melamun di atas pohon kopi tua yang rebah di belakang rumah. Pada suatu sore yang ranum diam-diam Mulan duduk di sampingku.
“Kucari kamu ke mana-mana,” kudengar suaranya agak sendu.
“Kamu sudah tahu aku suka di sini,” sahutku cuek. “Kamu datang untuk pamitan, kan?”
Ia membisu. Mungkin merasa tertusuk oleh ucapanku yang bernada menyindir. Senja terasa beku. Burung-burung jalak telah lama pulang ke sarang. Aku tidak sampai hati untuk tidak menoleh padanya.
“Aku tahu kamu tidak menginginkannya, tapi kamu tak bisa apa-apa. Sama seperti aku. Aku akan kehilangan kamu.”
“Aku akan tetap meminjamimu buku.”
“Tidak usah!” tanggapku ketus sambil membuang muka.
Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba aku merasa berhak memperlakukannya seperti itu, padahal selama ini kami tak pernah membuat ikatan apa pun. Ia segera beranjak meninggalkanku tanpa pamit. Aku tahu ia pasti tidak dapat menerima sikapku.
Ia telah melangkah beberapa jarak ketika kemudian berhenti dan menoleh ke belakang. Kupandangi ia dengan tatapan menyesal dan berharap ia tidak pergi begitu saja. Rupanya ia menangkap bahasa isyaratku. Ia kemudian bergegas balik lalu menarik leherku dan memberiku sebuah kecupan.


