Surat Dari Bali

Posted on Mei 3, 2008. Filed under: CERPEN | Tags: |

Wati melangkah tergesa sepanjang koridor kampus. Ia tidak habis pikir bagaimana sepucuk surat yang ditujukan pada dirinya bisa memakai alamat kampus. Ia merasa tak pernah menggunakan alamat kampus untuk urusan surat-menyurat. Dan surat yang sedang dipegangnya erat-erat itu dikirim oleh Tri Nugroho, sahabat karibnya ketika masih duduk di bangku sebuah SMU di Denpasar. Ada sensasi aneh mengalir dalam dirinya ketika melihat nama itu tertera pada muka amplop yang berwarna putih itu. Nama yang mendadak seakan-akan menguasai segenap ruang hatinya. Diam-diam ia merasa bersalah karena telah membiarkan Tri tidak tahu tentang keberadaan dirinya sejak kekecewaan itu menghantam dirinya.

“Aku telah berbuat tidak adil pada Tri,” bisik hatinya sambil terus melangkah menuju kelas, berselisih lalu dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang memadati kampus siang itu. Kebetulan kelas masih kosong. Wati melihat jam di tangannya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum kuliah dimulai. Ia lalu duduk di salah satu bangku pada deretan depan. Dengan hati berdesir sampul surat segera disobeknya dan ia mulai membaca.

Dear Wati,

Saya harap kehadiran surat ini tidak mengganggumu. Maaf, saya tidak tahu apakah kalimat ini akan membuatmu nyaman atau malah mengusik hatimu. Saya kira kamu tahu apa yang saya maksud, dan saya harap kamu tahu pula bahwa saya masih tetap seperti dulu, selalu gelisah menunggu kesempatan untuk dapat bertemu denganmu. Sudah begitu lama kita tidak berbincang-bincang tentang musik, tentang perkembangan seni lukis, tentang buku-buku sastra dan tentang banyak hal lainnya yang sama-sama kita minati.

Kesempatan itu bagai terampas begitu saja dan membuat saya kehilangan. Sering saya bertanya dalam hati kenapa hal ini harus saya alami. Kesalahan apakah yang telah saya perbuat sehingga tidak ada pintu maaf yang terbuka untuk saya? Dan yang paling membuat saya gusar, kenapa saya tidak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui alasannya? Saya sampai sempat berpikir betapa tidak adilnya hidup ini. Ya, life is really not fair. Namun saya sadari, ketidakadilan yang saya terima tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan mereka yang harus kehilangan anak, istri atau suami yang menjadi korban ulah orang-orang biadab yang telah meledakkan bom di kawasan Legian, Kuta beberapa waktu yang lalu.

Saya yakin kamu pasti sudah tahu banyak mengenai kejadian itu, mungkin lewat televisi atau media cetak, namun saya merasa wajib bercerita kepadamu mengenai apa yang saya alami setelah kejadian itu.

Pada malam yang menggerahkan itu, saya sedang berada di rumah seorang teman ketika terdengar letusan yang dasyat, yang membuat jendela-jendela rumah bergetar sampai kacanya rontok. Saya kira suara itu berasal dari asrama tentara, sehingga saya sama sekali tidak merasa risau. Tetapi begitu sampai di rumah, seorang teman satu fakultas menelepon dan saya diminta segera datang ke rumah sakit untuk bergabung dengan para relawan lainnya. Saat itulah saya baru tahu bahwa ledakan bom telah meluluhlantakkan dua buah tempat hiburan di kawasan Legian Kelod.

Saya hampir tidak percaya mendengar semua itu. Ya Tuhan! Di bumi yang dikenal sangat aman dan damai ada bom meledak? Tanpa pikir panjang saya segera meluncur ke Sanglah. Sampai di depan rumah sakit saya terperangah melihat pemandangan yang sangat di luar dugaan. RSUP Sanglah telah berubah jadi lautan manusia. Kesibukan yang luar biasa tampak di mana-mana. Ada relawan yang mengatur lalu lintas, ada yang sibuk memasang komputer, ada yang mendirikan tenda, ada yang mengatur sumbangan konsumsi yang datang bertubu-tubi, orang-orang bule berseliweran dan entah apa lagi.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya merasakan sesuatu yang begitu asing. Saya berdiri tegang dengan lutut gemetar menyaksikan begitu banyak mayat yang terbakar hangus. Di antara mayat-mayat itu ternyata ada korban yang masih hidup, yang wajahnya sangat sulit dikenali. Hati saya begitu pilu mendengar mereka merintih dalam penderitaan yang sulit saya bayangkan. Saya heran bagaimana seorang calon dokter seperti saya bisa menunjukkan reaksi seperti itu. Sesungguhnya saya malu menceritakan hal ini, tetapi saya ingin kamu tahu bahwa saya masih tetap seperti dulu, tak pernah bisa menyembunyikan apa pun darimu.

Saya tidak percaya kalau kamu tidak paham mengapa semua itu saya lakukan. Barangkali saya yang terlalu bodoh untuk dapat memahami dirimu yang begitu mudah melupakan semuanya. Ketahuilah, kehilangan kamu dengan cara seperti itu sangat menyiksa saya. Aneh rasanya membayangkan seseorang yang saya banggakan dapat berbuat seperti itu. Maaf, saya sama sekali tidak bermaksud mencela.

Kebetulan kemudian saya bertemu dengan Tante Ria. Waktu itu saya sedang menjenguk salah seorang teman di rumah sakit, sedangkan adik ibumu itu menjenguk anak sahabatnya yang ikut menjadi korban ledakan bom. Dari Tante Ria-lah saya tahu kenapa kamu hilang begitu saja bagai ditelan bumi.

Saya lalu mencoba menempatkan diri pada posisimu. Memang terasa menyakitkan bila gagal meraih sesuatu yang sudah menjadi obsesi sejak kecil. Apalagi kamu telah dinyatakan lulus test masuk Fakultas Kedokteran. Sayang sekali, Sumbangan Pengembangan Instansi yang tak kenal kompromi telah membuat mimpimu pudar. Saya dapat merasakan kekecewaan yang kamu tanggung. Namun yang tidak saya mengerti kenapa kamu harus pergi tanpa pesan, seolah-olah saya ini tidak pernah ada bagimu.

Tapi kini saya lega demi mengetahui bahwa kamu kuliah di Fakultas Teknologi Informasi dari sebuah Universitas, yang tadinya merupakan perguruan tinggi perintis pendidikan komputer di Indonesia. Apalagi saya dengar kamu juga memperoleh beasiswa. Saya salut padamu dan yakin suatu saat kamu akan menjadi seorang sarjana yang diimpikan oleh negeri ini; sarjana yang bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk kejayaan nusa dan bangsa.

Saya jadi semakin yakin akan kata-kata seorang pakar yang berbunyi: “In every difficulty lies opportunity“. Dan kamu telah memanfaatkan kesulitan yang kamu alami untuk meraih kesempatan yang sangat baik. Saya harap ini merupakan awal yang cemerlang bagi karirmu kelak di bidang teknologi informasi. Mungkin kamu sudah tahu, di sebuah lembah di Bali bagian tengah, di desa yang bernama Pacung, telah dibangun sebuah industri Soft Ware yang bertaraf internasional. Saya bayangkan kelak kamu akan bergabung di sana dengan rekan-rekanmu seprofesi, bekerja keras untuk menghasilkan devisa bagi negeri yang sedang dirundung kegalauan ini.

Saya rasa kamu sudah bangkit dan melupakan kepahitan karena gagal menjadi seorang dokter. Memang, terkadang kita harus melalui jalan berliku untuk dapat sampai ke tujuan. Barangkali itu hanya semacam ujian untuk mengukur ketabahan hati kita. Apa pun profesi kita kelak, itu hanyalah sebuah wahana yang akan menyeberangkan kita pada cita-cita sejati kita sebagai umat manusia, yang pada gilirannya butuh aktualisasi diri.

Saya kira tidak ada lagi kata-kata dapat saya rangkai untuk mewakili semua yang ingin saya sampaikan kepadamu saat ini. Saya harap kamu berkenan meluangkan waktu untuk menjawab surat ini. Terima kasih, dan maaf kalau ada kata-kata yag tidak berkenan di hati.

Sincerely Yours,

Tri Nugroho

Perlahan Wati melipat surat di tangannya dan dimasukkannya kembali ke dalam amplop. Matanya tampak berkaca-kaca. Seumur hidupnya belum pernah ia menerima surat yang isinya demikian mengharukan seperti yang barusan ia baca. Ia sungguh menyesal telah berlaku demikian pengecut terhadap seseorang yang sesungguhnya berhati emas.

Wati kembali melihat jam di pergelangan tangannya. Ia heran karena belum ada seorang pun teman sekelasnya yang datang. Perasaan curiga kemudian mendorongnya untuk bangkit lalu pergi ke luar dan memeriksa tulisan di atas pintu kelas. “Sialan,” umpatnya lirih begitu sadar bahwa ia telah masuk ke kelas yang salah.***

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...