Wanita Dengan Senyum Mona Lisa

Posted on Mei 3, 2008. Filed under: CERPEN | Tags: |

Kudapati diriku terbaring lunglai berselimut dingin di sebuah ruangan. Asing rasanya, seperti sebuah aula dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar yang begitu kokoh. Ornamen-ornamen indah tampak menghiasi sekeliling dinding bagian atas dan langit-langit. Ah, aku tak yakin benar dengan penglihatanku dalam kondisi separuh sadar. Manakala kudengar suara air menetes-netes menikam sunyi, aku merasa seperti berada di dalam sebuah goa besar yang digelantungi banyak stalaktit.

Dalam kegamangan, arus hangat tiba-tiba terasa merambat dari ujung-ujung jemari kaki lalu mengalir ke telapak, pergelangan, betis, lutut, paha dan terus naik memberi pijatan-pijatan ritmis sampai ujung kepala.

Waktu merangkak perlahan. Tak ada siapa pun di sekitarku. Ketika kembali kutatap langit-langit ruangan, terasa ada sesuatu bergerak mendekat dari sisi kanan. Seseorang dengan langkah-langkah ringan tanpa suara. Begitu aku menoleh, ia telah berdiri di dekatku sambil mengulum senyum yang membuatku teringat pada lukisan terkenal Leonardo da Vinci: Mona Lisa.

Ya, senyum wanita setengah baya itu begitu misterius namun sepertinya tidak asing. Tubuhnya yang langsing terbungkus jubah panjang berwarna putih. Gurat ketenangan di wajahnya yang oval seperti pernah kukenal.

“Anda siapa?” sebuah pertanyaan melompat dari bibirku.

Ia menyeringai.

“Rentang waktu yang panjang memang sanggup membuat orang lupa,” kilahnya terdengar berwibawa. “Apalagi dibatasi dimensi yang berbeda.”

Aku tidak menangkap maksud ucapannya. Aku diam saja, memberinya kesempatan untuk mengucapkan kata-kata yang lebih mudah dimengerti.

“Saya pernah jadi istrimu,” katanya setelah beranjak mengitariku dan kemudian berdiri di sisi kiri. Aku ingin mengatakan aku masih lajang, tetapi kuputuskan bertahan dalam diam. Kupikir ia tidak waras. Tak ada gunanya meladeni orang seperti itu.

“Kau pasti pikir saya gila,” ia meneruskan seperti bisa menebak isi kepalaku. Aku meliriknya. Kulihat mimiknya begitu serius.

“Saya maklum, kesadaranmu masih terbatas. Kau pasti bingung dengan ucapan saya. Biar saya kasih tahu, kau sekarang berada di duniaku!”

Aku terperangah.

“Dunia apa?”

Ia kembali memamerkan senyum misteriusnya. Aku merinding diteror ketakutan yang amat sangat.

“Dunia pralaya. Kita sudah berkali-kali bolak-balik ke sini. Kau pasti tak ingat kalau kita pernah jadi suami istri.”

“Jangan mengolok-olokku,” protesku dengan nada tinggi. “Ini tempat apa? Kenapa saya ada di sini?”

“Kau ada di sini untuk meneruskan pelajaranmu.”

“Pelajaran apa?”

“Pelajaran hidup yang belum tuntas. Kau akan merampungkannya dengan saya.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Tidak mengerti atau tidak mau?” tanggapnya dengan wajah cemas. “Saya berharap kau tidak mengulang kesalahan yang sama.”

“Kesalahan apa?”

“Kesalahan yang kau lakukan waktu kita jadi suami istri. Ego laki-lakimu telah membuatmu jadi sombong dan tidak mau mengakui pencerahan yang saya capai. Kau tidak rela saya jadi pembimbingmu hanya karena saya istrimu, seorang perempuan! Kini, seharusnya tidak ada penolakan lagi. Kalau kau menolak lagi, kau tak akan maju-maju.”

Ringtone ponsel tiba-tiba mengoyak kesunyian yang menyela di antara kami. Aku terlonjak kaget. Ada getaran menggelitik pangkal pahaku sebelah kiri. Reflek tangan kiriku merogoh saku celana. Kukeluarkan ponsel yang masih menjerit-jerit lalu kutempelkan ke telinga setelah memencet tombol bergambar gagang telepon warna hijau.

“Hallo?”

“Arga! Kamu ke mana aja? Mau ikut sidang nggak sih? Waktumu hampir habis!”

Ya Tuhan! Pak Han pasti sedang menunggu. Tidak biasanya ia menelepon. Kalau mau asistensi, biasanya aku yang kirim pesan singkat terlebih dahulu. Heran, rasanya aku tak pernah mangkir. Kenapa ia bilang waktuku tinggal sedikit? Seingatku masih ada waktu sebulan untuk merampungkan skripsiku. Pasti ada yang tidak beres. Nada suaranya yang tinggi memberi indikasi ke arah itu.

Aku harus segera bertemu dengannya. Siapa tahu ada perubahan jadwal. Ah, ke mana pula teman-temanku satu bimbingan? Kenapa tidak ada satu pun yang menghubungiku? Biasanya mereka rajin kirim pesan, termasuk untuk hal-hal yang sangat sepele, tetapi kini tak satu pun ingat padaku. Ada apa sebenarnya?

Ketegangan yang sangat menyiksa membuatku terlonjak bangun.

“Mau ke mana?”

“Saya harus pergi.”

Perempuan itu kembali mengulum senyum. Senyum yang pasti tak akan pernah kulupakan. Aku bergegas menuju pintu terdekat.

“Bukan itu,” cegahnya. “Pintu keluar ada di sebelah sana,” kulihat ia menudingkan tangan ke arah kanan. “Saya harap kau akan kembali ke sini.”

Aku tidak menjawab. Aku bergerak setengah berlari menuju pintu yang ditunjukkan. Sebelum membuka pintu aku sempat berpaling sejenak ke belakang. Tampak ia masih berdiri di tempatnya dengan mimik yang seakan memberi isyarat bahwa ia akan setia menunggu.

Pintu mendadak terbuka sebelum sempat kusentuh, membuatku kaget. Belum lagi aku sempat melangkah, arus yang sangat kuat sertamerta menyedot tubuhku ke luar. Aku seperti terhempas dari pintu pesawat yang sedang terbang di ketinggian. Aku berteriak ketakutan sambil berpikir bahwa sebentar lagi orang-orang akan menemukan diriku tergeletak remuk di atas bumi tanpa nyawa.

Tapi tidak. Kudapati diriku dalam keadaan masih bernapas. Aku meringis menahan sakit. Rupanya lengan kananku membentur kaki meja atau lantai ketika aku terpelanting dari tempat tidur. Bersamaan dengan itu terdengar nada dering SMS masuk bertubi-tubi. Aku bangkit sambil terhuyung-huyung, berusaha menemukan ponselku yang biasanya kutaruh di atas meja.

Banyak pesan yang masuk. Semua dari teman-teman satu bimbingan.

Lina: “Kok susah banget dihubungi? Aku sudah dapat jadwal sidang.”

Ani: “Pak Han nanyain elu. Kok gak pernah bimbingan lagi?”

Reza: “Kalo gak ketemu Pak Han hari ini, jangan harap bisa ikut sidang. Selamat berjuang untuk semester berikut.”

Sederet pesan berikutnya tak kubuka. Sudah hampir jam delapan pagi. Aku menghambur ke kamar mandi.

*

Kuketuk pintu ruangan Pak Han sebelum masuk. Kudapati dosen penganut vegetarian ketat itu sedang duduk menyamping, menghadapi komputer di belakang meja. Biasa, kalau tidak sedang sibuk ia pasti surfing.

“Selamat pagi, Pak.”

“Pagi,” jawabnya tanpa mengalihkan pandang. “Kamu ke mana aja sih? Mau maju nggak?”

Aku menyeret kursi lalu duduk dan meletakkan naskah skripsi di atas meja.

“Saya tidak punya alasan untuk mundur.”

Pak Han menoleh. Aku menangkap tatapan yang agak ganjil. Kutunggu ia menggeser kursi hingga duduk berhadapan denganku.

“Kamu tahu ini jadwal bimbingan terakhir?” katanya sambil meraih naskah skripsiku dan langsung membuka lampiran program.

“Tahu, Pak.”

“Lo, programnya kamu ganti ya?” ia melotot.

“Ya, Pak. Saya merasa lebih sreg pakai program yang berorientasi objek daripada yang terstruktur.”

“Kenapa nggak ngomong dari awal? Kamu tahu nggak, ini riskan buat kamu. Sebaiknya kamu ikuti apa yang dianjurkan.”

“Tapi, pakai Visual Basic nggak dilarang kan, Pak?”

“Memang tidak. Tapi diharapkan tahun depan baru mulai. Apa kamu betul sudah siap?” Pak Han menatapku tajam.

“Bapak meragukan saya?”

Pak Han menikamku dengan tatapannya. “Saya rasa ada yang berubah pada diri kamu.”

“Kenapa, Pak?”

“Selama ini kamu tak pernah merespons pertanyaan saya dengan pertanyaan.”

“Oh, maaf, Pak. Saya tidak bermaksud….”

“Nggak apa-apa. Saya cuma merasa aneh aja. Kamu baik-baik saja kan?”

Aku mengangguk.

“Kalau kamu memang siap, saya sih oke-oke aja? Ingat, resikonya kamu yang tanggung. Kalau demo program tidak jalan, kamu langsung tidak lulus. Tidak ada kesempatan untuk presentasi. Mana kartu bimbingannya?”

Aku menyodorkan kartu yang dimintanya untuk ditandatangani.

*

Keluar dari kampus kujalankan motor pelan-pelan. Aneh rasanya. Biasanya keinginan untuk ngebut tak pernah bisa diajak kompromi. Seumur-umur baru kali ini aku betah dengan suasana kemacetan jalan raya antara Cileduk dan Cipulir. Aku tidak menyelip-nyelip seperti biasanya di antara mobil-mobil yang merayap. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada diriku? Sepertinya ada rekaman kejadian yang hilang dari kotak ingatan.

Sampai di bawah jembatan di kawasan Sudirman aku menepi. Seperti ada yang menyuruh, entah siapa.Akhirnya aku berhenti. Di trotoar sebelah kiri, dekat pohon mahoni yang tidak begitu tinggi, kulihat ada lubang persegi yang terbuat dari beton menganga, entah untuk keperluan memasang kabel listrik atau telepon. Tampak seperti proyek yang belum rampung. Impuls membujukku agar mendekat. Kuikuti dan sejurus saja aku sudah berdiri di sisi lubang berdiameter sekitar satu meter itu.

Kulihat ada kabel-kabel sebesar tongkat melintang di dasarnya. Aku sempat bergidik membayangkan seandainya ada orang terperosok ke dalamnya dan tersengat aliran listrik. Betapa cerobohnya orang yang menggarap proyek itu. Sama sekali tidak memperhatikan keselamatan orang lain. Mestinya dipasang tanda agar orang berhati-hati kalau sedang lewat di trotoar itu.

Tiba-tiba kabel-kabel itu sirna dari pandangan, berganti dengan sebuah layar putih. Gambar-gambar hidup berkelebatan, memperlihatkan potongan-potongan kejadian dari demonstrasi mahasiswa berbagai perguruan tinggi. Mereka tumpah ruah memenuhi jalanan dan sekitarnya. Yel-yel berhamburan ke udara, minta agar presiden yang sedang berkuasa diturunkan. Aku ada di antara mereka. Di barisan depan, para mahasiswa saling dorong dengan petugas keamanan. Suasana berkembang makin panas. Tiba-tiba terdengar suara letusan senapan. Mahasiswa pada kocar-kacir menyelamatkan diri. Aku juga melakukan hal yang sama. Saking panik aku tak melihat lubang menganga di dekatku dan aku terperosok ke dalamnya. Kepalaku membentur dinding lubang yang terbuat dari beton itu. Sampai di sini layar lenyap begitu saja dan kabel-kabel itu tampak lagi seperti semula.

Aku menggeragap seperti tersadar dari mimpi. Ah, permainan apakah ini? Mendadak aku teringat lagi ucapan wanita dengan senyum Mona Lisa itu: “Kau sedang berada di duniaku!”

Dunia apakah yang dia maksud? Kuperiksa keadaan sekitar. Orang-orang lalu-lalang, mobil-mobil berseliweran. Tak ada yang memperhatikan gerak-gerikku. Aneh! Mengapa mereka seperti tidak melihatku? ***

Jakarta, Agustus 2004

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...