Aku, Tari dan Wawan
Tampangnya mirip Vanness Wu, artis Taiwan yang kini sedang jadi idola kaum muda di tanah air. Mirip sekali. Aku berkenalan dengannya pada hari pertama kuliah, setelah selesai mengikuti Ordik setahun yang lalu. Terjadinya di kantin kampus. Gara-gara ia menyenggol meja, teh botol yang ada di atas meja terpelanting dan isinya muncrat mengotori bajuku.
Sejak kejadian itu aku selalu bertanya-tanya dalam hati: adakah ia sengaja melakukan hal itu agar dapat berkenalan denganku? Tidak hanya itu, ia juga membuatku jadi rajin ngaca, sampai suatu saat pernah kepergok sama Erly, adikku yang kelas dua es-em-u.
“Mbak Yanti, lagi jatuh cinta ya?” tanyanya polos sambil nyengir.
“Hush, siapa yang jatuh cinta?” elakku
“Katanya, kalau orang tiba-tiba jadi genit itu pertanda jatuh cinta.”
“Sok tahu! Siapa yang genit?”
“Siapa lagi kalau bukan yang suka ngaca.”
“Sialan!”
Terkadang ada rasa bimbang tumbuh di hati, jangan-jangan aku salah duga. Bahwa Wawan menyenggol meja di kantin bukan karena sengaja, tetapi karena kebetulan. Sama sekali bukan karena tertarik untuk berkenalan denganku. Buktinya sampai kini ia tak pernah menyinggung-nyinggung hubungan di antara aku dan dia, padahal sudah setahun lamanya kami seiring sejalan, ke mana-mana bersama. Ke kantin untuk makan atau sekadar minum jus alpukat kesukaan kami. Nonton Naif dan Dewa juga bareng. Aneh rasanya. Aku jadi penasaran.
Ternyata Tari juga diam-diam penasaran.
“Kamu itu pacaran apa nggak sih sama Wawan?” tanyanya suatu hari, ketika kami duduk-duduk di taman kampus sambil nonton televisi.
“Memangnya kenapa? Kok tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanggapku.
“Kelihatannya kamu sibuk sendiri.”
“Maksud kamu?”
“Aku kuatir kalau kamu bertepuk sebelah tangan.”
Aku tercekat. Tak bisa memberi tanggapan.
“Boleh nanya nggak?” terusnya.
“Tanya aja.”
“Pernah nggak Wawan menyatakan perasaannya sama kamu?”
Aku menggeleng.
“Lo kok bisa?”
“Apanya?”
“Kamu. Begitu gencar memberi perhatian padanya. Sampai-sampai semua tugas kuliahnya kamu yang ngerjain.”
“Apa itu salah?”
“Menurutku nggak bener.”
“Dengar, Tar,” kataku. “Wawan itu orangnya baik. Aku suka dia. Apa aku tak boleh bantu dia pada saat ia butuh bantuanku?”
“Tapi yang kamu lakukan bukan membantunya, melainkan menjerumuskannya. Kalau kamu memang cinta dia, seharusnya kamu lakukan hal yang positif untuknya. Bukan memanjakannya dengan bantuan-bantuan seperti yang kamu lakukan selama ini. Apa benar kamu mau punya teman hidup kelak yang ketergantungannya begitu tinggi sama kamu?”
Aku kembali membisu, tak mengerti kenapa hal seperti itu tak pernah terpikirkan olehku selama ini. Inikah yang dimaksud dengan cinta buta?
“Aku kuatir,” ujar Tari lagi, “jangan-jangan ia hanya memanfaatkanmu. Ia hanya pura-pura mau dekat sama kamu, padahal… siapa tahu ia sudah ada yang punya.”
“Tidak, Tar. Ia tidak seperti itu. Ia sangat baik padaku.”
“Setiap orang bisa berpura-pura baik.”
“Jadi, menurutmu Wawan itu bukan orang baik?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Jangan buat aku bingung.”
“Kamu sendiri yang buat dirimu bingung. Makanya kalau mau menilai sesuatu jangan pakai perasaan!”
Aduh, apa sih maunya Tari ini? Sebelumnya tak pernah ia bicara seserius ini padaku. Ada apa dengannya? Jangan-jangan ia sendiri naksir sama Wawan. Pura-puranya ngasih nasehat padahal ….
“Kalau aku jadi kamu,” kata Tari lagi. “Aku akan segera buat jarak dengannya. Dari reaksi yang ia tunjukkan kamu akan tahu bagaimana sebenarnya dia. Tapi ini masalahmu, hanya kamu yang tahu apa yang harus kamu lakukan. Sebagai teman aku hanya berkewajiban memberi masukan. Mau diterima terserah, tidak diterima juga tidak apa-apa.”
Semakin banyak Tari bicara semakin curiga aku dibuatnya. Ada apa sih dengannya? Atau ada apa sih dengan diriku? Jangan-jangan karena aku sedang kasmaran maka akal sehatku tertutup sama sekali untuk setiap masukan, walaupun sesungguhnya masukan itu akan menyelamatkan diriku.
Mungkin ini memang masalah serius. Tetapi aku tak tahu kenapa aku tak bisa percaya pada kata-katanya. Ah, daripada bingung lebih baik aku kirim surat ke pengasuh rubrik konsultasi majalah Swara, siapa tahu Pak Hadiono bisa memberi solusi yang cemerlang.
Ternyata tak salah dugaanku. Hanya selang beberapa hari sudah kubuktikan niat tak baik Tari. Rupanya benar ia diam-diam naksir Wawan. Suatu siang kulihat mereka berdua mojok di perpustakaan. Berbuih rasanya hatiku melihat mereka bicara bisik-bisik seperti itu. Karena tak ingin buat keonaran, maka segera kutinggalkan perpustakaan. Kulangkahkan kaki menuju sekretariat majalah Swara. Kutemui seorang petugas yang sedang bekerja menghadapi komputer.
“Ada apa, Dik?” tanyanya.
“Saya mau konsultasi.”
“Konsultasi apaan?” petugas itu mengerutkan keningnya.
“Maksud saya…, saya mau kirim surat untuk rubrik konsultasi. Pengasuhnya ada nggak?”
“Sedang ngajar tuh, tapi kalau cuma mau kirim surat bisa titip di sini saja, nanti saya sampaikan.”
“Kalau begitu saya titip ya?”
Kutinggalkan sekretariat majalah Swara dengan perasaan yang tak berkurang sebalnya. Tari itu benar-benar pengkhianat. Berlagak baik padahal hatinya culas. Betul-betul srigala berbulu domba. Kalau bukan di perpustakaan sudah kulabarak dia tadi.
Ketika aku masuk ke unit lima, kulihat Wawan handak menuruni tangga di ujung lorong yang baru selesai dibangun. Aku bergegas mengejarnya. Suara langkahku pun bergema di lorong yang sunyi itu. Kupanggil namanya, tetapi Wawan sudah lenyap di balik tangga.
Aku tak putus asa. Kucari ia di lobi. Tak ada. Kutuju halaman kampus. Nah, itu dia. Kulihat ia sudah berada di depan kampus, lalu belok ke kiri. Bergegas aku mengejarnya. Ternyata ada seorang wanita menunggunya di sebuah warung. Maka mendadak kuhentikan langkah di balik tembok pembatas kampus.
Entah mengapa aku jadi curiga melihat gerak-gerik mereka. Melihat penampilannya yang seronok, kupastikan ia bukan mahasiswi. Ada hubungan apakah Wawan dengan wanita seperti itu?
Kulihat Wawan mengeluarkan rokok dari sakunya lalu wanita itu menyodorkan korek api kayu padanya. Aku jadi heran, sejak kapan Wawan merokok? Setahuku ia tidak merokok. Tapi anehnya rokok itu tak kunjung disulutnya. Korek api yang diterimanya dari wanita itu malah dimasukkannya ke dalam saku secara diam-diam.
Tubuhku tiba-tiba menggigil begitu teringat sesuatu. Jangan-jangan rokok yang dipegangnya hanya untuk mengelabui orang, sebagaimana yang pernah kudengar dari seorang teman. Apa yang mereka lakukan sesungguhnya ilegal. Melakukan transaksi obat terlarang. O my God!
Keringat dingin segera membasahi tubuhku. Itukah kesibukan Wawan selama ini hingga selalu minta tolong padaku untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya? Aku segera meninggalkan tempat itu. Tubuhku yang lemas kemudian kusandarkan di dinding lobi. Ternyata Tari benar, aku harus membuat jarak dengannya. Harus menjauhinya.***


