Sebuah Penantian
Matahari pukul empat sore masih terasa menyengat. Seperti biasa arus lalu lintas di sepanjang Jalan Cileduk Raya tampak padat. Kemacetan adalah hal biasa, sampai-sampai dijadikan kelakar bahwa Cileduk Raya itu biangnya kemacetan seantero Jakarta.
Yudo melompat turun dari sebuah bus Patas yang sarat penumpang. Dengan tangan kanan memegang gitar, yang barusan ia gunakan ngamen, ia terus berjalan di atas trotoar. Wajahnya tampak riang walaupun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya setelah ngamen sepanjang siang. Di bawah pohon mahoni yang cukup rindang kemudian ia berhenti lalu duduk dan menghitung perolehannya barusan.
Lagi-lagi ia terhenyak ketika membuka kantong bekas bungkus kopi merek tertentu itu. Isinya kebanyakan lima ratusan dan ribuan. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang lebih banyak diberati recehan logam ratusan. Ia tak habis pikir. Mimpi apakah aku semalam? Adakah ini hari istimewa bagiku? Atau adakah ini semacam imbalan yang harus kuterima setelah sempat menggagalkan perampokan yang terjadi tadi siang di atas Metromini?
Yudo heran bagaimana orang bisa bersikap begitu kasar kepada sesamanya hanya untuk menyambung hidup. Meskipun ia sendiri telah tercampak dari lingkungan keluarga berada dan kini banyak dihantam kesulitan hidup, ia tak pernah membiarkan dirinya sampai melakukan hal yang tidak manusiawi seperti itu.
Memang, apa yang dialaminya sekarang adalah buah dari kenekadannya menikahi wanita yang tidak disukai ayahnya. Akibatnya ia tercampak dari keluarga Tuan Sugondo, seorang pejabat penting pada sebuah departemen. Ia sadar telah melukai hati lelaki tua yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun itu.
Yudo adalah anak bungsu yang memiliki kemanjaan berlebihan dan naif. Dua kakak laki-lakinya dan seorang kakak perempuannya telah berhasil jadi orang. Mereka semua lulusan universitas di luar negeri, sementara ia sendiri hanya punya cita-cita yang sangat sederhana, yakni jadi seniman musik dan minta kuliah di sebuah institut kesenian. Terang saja Tuan Sugondo jadi berang mendengarnya, sebab menurutnya menjadi seniman itu bukanlah cita-cita melainkan hanya kompensasi dari sebuah ketidakberdayaan. “Lihat saja, ” katanya tak senang. “Apa yang dapat dilakukan seniman untuk negeri ini? Kerjanya cuma mengeritik sana-sini. Sok moralis. Sok idealis.”
Tuan Sugondo tak dapat mengabulkan permintaan Yudo. Ia dianggap belum paham akan arti masa depan. Anak macam dia butuh pengarahan khusus, bila perlu digiring. Maka keluarlah keputusannya: Yudo harus kuliah di fakultas ekonomi!
Yudo tidak bisa berkutik. Ia harus tunduk pada keputusan ayahnya. Maka dengan setengah hati ia pun kuliah di fakultas yang diharapkan bisa mencetak Yudo menjadi seorang ekonom yang sukses. Tetapi ternyata Tuan Sugondo harus menelan pil pahit. Yudo tidak saja gagal menjadi sarjana ekonomi tetapi bahkan telah terjerumus menjadi seorang penyelundup. Bukan, bukan penyelundup senjata atau komoditi terlarang lainnya. Yang ia selundupkan adalah benih anak manusia ke dalam rahim seorang mahasiswi yang dicintainya. Akibatnya ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan duduk di pelaminan, yang tentu saja tidak mendapat restu Tuan Sugondo yang merasa tertampar wajahnya.
Tak pelak nasibnya berubah drastis. Dari hidup berkecukupan, bahkan berlebihan, kemudian jadi orang yang yang sangat sederhana, menumpang di rumah mertua dan mengandalkan penghasilan dari bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Tangerang. Tak cukup sampai di situ. Ketika kemudian krisis moneter menghantam dan membuat semakin terpuruknya sektor riil, seperti kebanyakan orang Yudo pun akhirnya mendapat giliran menerima pesangon dan kehilangan pekerjaan.
Namun dapur tentu tak boleh berhenti mengepul. Apalagi di antara ia dan istrinya, Lilies, telah hadir Putri, sang buah hati yang telah berusia delapan bulan. Ia harus melakukan sesuatu. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia dipaksa keadaan untuk melihat ke dalam dirinya dan mencari apakah masih ada potensi yang ia miliki untuk dipakai menyelamatkan bahtera keluarga yang nyaris tenggelam. Tiada lain kecuali potensi dalam hal tarik suara dan memetik gitar, sehingga yang paling mungkin ia lakukan adalah menjadi pengamen, kendati untuk memulai sangatlah sulit karena terlebih dahulu ia harus berperang dengan perasaannya sendiri.
Bayangkan, seorang anak manusia yang semula terbiasa menikmati hidup enak di tengah keluarga kaya tiba-tiba terlempar ke jalanan, melakukan sesuatu seolah-olah seorang pengemis melompat dari satu bus ke bus yang lain demi sesuap nasi.
Waktu beringsut terus. Matahari makin merosot di ufuk barat. Angin semilir seakan mengelus Yudo yang masih asyik menghitung perolehannya di bawah pohon mahoni. Terima kasih, Tuhan, ucapnya dalam hati mensyukuri nikmat yang ia rasakan. Ini lebih dari cukup untuk membeli sekaleng susu buat Putri. Ketika ia melihat jam di pergelangan tangannya ia tampak kaget. Bukan karena hari sudah menjelang senja, tetapi karena tanggal yang ada di situ menunjukkan angka 13. Tiga belas Mei! Ya, Tuhan, ini hari ulang tahun Lilies, pekiknya dalam hati.
Ia segera bangkit dari duduknya dan pergi sambil menjinjing gitarnya. Sembari melangkah ia menimbang-nimbang apa sebaiknya yang ia hadiahkan buat Lilies yang sangat setia itu. Ia mendadak murung begitu teringat keadaan dirinya yang begitu melarat, sehingga tak mungkin menghadiahkan sesuatu yang dapat memanjakan perasaan Lilies. Sebenarnya bisa saja, jika ia mau kompromi dengan dirinya. Kemarin diam-diam ibunya mengirimkan selembar cek senilai satu juta rupiah, tetapi kertas berharga itu telah dirobek-robeknya lalu dibuang ke tong sampah.
Kendati ia tahu ibunya sangat sayang padanya, ia merasa tak berhak lagi menerima apa pun dari keluarga Tuan Sugondo. Ia sadar ia sudah tidak lagi menjadi bagian dari keluarga itu, ibarat gombal yang telah tercampak ke dalam tong sampah dan tak punya harga lagi di mata mereka. Ia memilih hidup apa adanya dengan segala risikonya. Ia tidak mau dikasihani.
Yudo heran begitu dilihatnya pasar swalayan tempatnya biasa belanja tertutup rapat. Beberapa orang satpam tampak berdiri dalam keadaan siap siaga. Pagar berduri yang bisa dipindahkan dipasang sedemikian rupa di depan semua pintu masuk.
Ada apa gerangan? Belum lagi Yudo sempat mencari tahu tiba-tiba muncul gelombang massa dari tikungan jalan. Mereka meneriakkan yel-yel yang mengecam pemerintah. Mereka terdiri dari anak-anak muda yang mengusung beberapa spanduk yang bertuliskan kalimat-kalimat yang menghujat Presiden Soeharto.
Mereka adalah para mahasiswa dari perguruan tinggi yang kampusnya terletak di Jalan Cileduk Raya. Ada semacam kerinduan yang memanggil Yudo untuk ikut bergabung. Tetapi tidak lama. Begitu teringat anak dan istri ia segera keluar dari kerumunan. Ia harus segera pulang untuk berbagi sesuatu di hari istimewa ini. Sesuatu yang juga bernama kebahagiaan walaupun hidup mereka pas-pasan, sebab bukankah kebahagiaan tak selalu bisa ditakar dengan kepemilikan yang belimpah?
*
Ia lega begitu sampai di plaza dekat terminal. Swalayan yang ada di lantai dua ternyata masih buka. Bagitu menaiki tangga depan plaza ia terbayang pada Lilies, yang ketika menyiapkan sarapan tadi pagi sempat digodainya.
“Terima kasih,” katanya ketika Lilies menyodorinya dua iris roti tawar yang telah diolesi sele kacang. “Pagi ini kamu tampak cantik sekali.”
“Pagi-pagi sudah ngerayu,” sahut Lilies dengan senyum manja. “Kurang apa lagi, sih? Apa tehnya kurang manis?”
“Ya, kurang manis jika dibandingkan dengan wajahmu.”
“Idih, genit ….,” Lilies mencubit pipi Yudo dengan gemas.
“Biarain. Kamu memang cantik kok. Lihat, wanita mana yang punya mata sebening matamu? Dan bibirmu itu, selalu membuatku rindu untuk pulang lebih cepat agar dapat memagutnya lebih lama. Tahu nggak, kamu itu secantik bidadari yang kumimpikan semalam.”
“Apa? Kamu mimpiin bidadari? Awas ya, kalau kamu berani macam-macam,” gertak Lilies merajuk.
“Memangnya kenapa? Kan cuma mimpi …”
“Iya, tapi mimpi kan ada maknanya. Jangan-jangan….”
“Jangan-jangan apa?”
Lilies tidak menjawab. Wajahnya berubah murung. Yudo paham apa yang harus ia lakukan kalau sudah begini. Ia segera menggeser duduknya ke sisi Lilies dan mulai membelai rambutnya yang dipotong sebatas bahu itu.
“Ayolah, jangan cemberut begitu,” kata Yudo lirih di telinga Lilies. “Apa kamu sudah tidak percaya lagi sama saya?”
Lilies segera menyusupkan wajahnya di dada Yudo yang bidang. Katanya, “Saya takut kehilangan kamu.”
“Buang pikiran itu jauh-jauh, Lis. Saya tak akan pernah tinggalkan kamu, kecuali itu kehendak Tuhan.”
“Benar?”
“Sumpah!”
Lilies menengadahkan wajahnya disertai tatapan yang amat mesra, lalu dengan gerakan perlahan dan lembut ditariknya leher Yudo dalam-dalam hingga ia bisa melumat bibirnya dengan kegemasan yang memuncak.
*
Yudo menitipkan gitarnya pada tempat penitipan barang dan mengambil keranjang plastik sebelum melangkah menuju stand makanan bayi. Susu buat Putri sudah dapat, kini tinggal mencari hadiah buat Lilies. Ia bingung lagi. Apakah yang harus kuhadiahkan pada Lilies?
Lama ia berdiri tertegun sebelum akhirnya dikagetkan oleh suara sorak-sorai dari arah bawah. Bagai air bah serombongan anak-anak tanggung menyerbu ke dalam dan mulai menjarah apa saja. Dalam tempo beberapa menit keadaan pasar swalayan jadi berantakan. Yudo berusaha menyingkir dari suasana hiruk-pikuk yang sangat mencemaskan itu. Tetapi gelombang masa yang berlapis-lapis menghalangi langkahnya.
Ia jadi panik ketika semua pintu tiba-tiba tertutup, apalagi kemudian tercium bau benda terbakar. Kepanikan pun menyebar ke mana-mana. Orang-orang yang berada di dalam gedung merasa terjebak dan asap mulai memenuhi ruangan yang sudah pengap. Teriakan dan jerit ketakutan mulai terdengar di sana-sini. Sementara mereka yang berhasil lolos dari kepungan maut bisa senyum-senyum meninggalkan plaza sambil menenteng atau memikul hasil jarahan mereka dengan raut wajah memancarkan kebanggaan. Entah apa yang ada dalam benak mereka.
*
Malam telah jatuh. Lilies semakin cemas memikirkan Yudo yang belum pulang. Ia telah menyiapkan makanan kesukaan suaminya, nasi uduk. Ya, cuma nasi uduk, yang tidak mahal tetapi ia yakini akan menjadi sangat bernilai karena sentuhan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Lilies tahu Yudo pasti pulang dengan sebuah kejutan, apa pun wujud hadiah yang akan ia berikan. Begitulah cara mereka berbagi dalam kebersahajaan. Tetapi kenapa Yudo belum pulang juga?
Sementara Lilies menunggu dengan kegelisahan yang kian menyiksa, tiba-tiba ayah dan ibunya muncul di pintu. Mereka baru pulang dari kondangan. Keduanya kemudian hampir serempak menanyakan di mana Yudo. Lilies hanya dapat menjawab dengan gelengan kepala sambil meremasi jemarinya.
“Lho, kenapa?” tanya ibunya cemas. “Apa kalian habis berantem?”
“Tidak, Bu.”
“Terus kenapa ia belum pulang juga?” timpal ayahnya agak ketus. “Bukankah hari ini ulang tahunmu? Seharusnya ia pulang lebih cepat!”
Lilies tersentak ketika terdengar rengekan dari dalam kamar. Ia buru-buru masuk. Di kamar didapatinya Putri tergolek tidur diganggu nyamuk. Lilies berusaha membunuh nyamuk-nyamuk itu dengan menepukkan kedua telapak tangannya. Dua ekor nyamuk berhasil dibunuhnya yang menyipratkan darah segar di telapak tangannya.
Lilies tertegun sejenak memandangi buah hatinya. Ada kesunyian menyelinap ke relung hatinya tatkala membayangkan kemungkinan yang sangat tidak diinginkannya. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana kalau Yudo tidak pulang untuk selamanya. Tidak, bantah hati kecilnya. Itu tidak akan pernah terjadi.
Dengan penuh perasaan ia mengusap-usap pipi anaknya yang kemerahan karena gigitan nyamuk. Sebuah kecupan kemudian ia daratkan di pipi yang lembut itu sebelum akhirnya balik ke luar.
Lilies menyalakan televisi. Namun “Sekilas Berita” yang kemudian muncul di layar perak membuat tubuhnya merinding. Berita itu mengabarkan bahwa Plaza Cileduk baru saja terbakar dan diperkirakan ratusan orang penjarah terjebak di dalamnya.
Darah Lilies seperti berhenti mengalir. Jangan-jangan….., pikirnya dengan wajah pucat. Tetapi Yudo bukan penjarah. Ia tak mungkin melakukan itu. Tak mungkin! Ia tidak di situ. Tidak! Sebentar lagi ia pulang.
Lilies terus menanti. Sampai larut malam. Bahkan sampai hari berganti. Ia yakin Yudo akan pulang dengan hadiah ulang tahun yang mengejutkan. Ia sama sekali tak peduli pada berita mengenai begitu banyaknya mayat hangus yang ditemukan di plaza. Ia tidak tergerak untuk datang ke RSCM untuk mencoba mengenali mayat-mayat yang tanpa identitas. Ia sama sekali tidak berpikir kalau Yudo ada di antara mayat-mayat itu.
Hanya satu yang ia pikirkan: Yudo akan pulang dengan hadiah ulang tahun yang mengejutkan! Maka ia terus menanti dan menanti! ***
Jakarta, 16 September 2000


