Archive for Mei, 2008


Warisan

“Sebenarnya kita pernah kaya,” kata Ayah tatkala kutemani duduk-duduk di bale gede pada suatu siang yang panas. Aku ingat waktu itu bulan Oktober, entah tahun berapa. Matahari musim kemarau begitu garang menyengat permukaan bumi. Kalau tidak berada di bawah lindungan bale gede yang beratap ilalang tebal tentu kami tak tahan mengenakan baju. Bale gede memang tempat yang nyaman untuk berangin-angin, sebab setengah sisinya terbuka.

“Rumah ini jadi salah satu petunjuknya,” lanjut Ayah sembari meraih selembar daun sirih di pabuan yang ada di depannya. Setelah diolesi kapur dan dicampuri serpihan gambir serta biji pinang, daun itu lalu dilipatnya dan dikunyahnya pelan-pelan. Beberapa jenak kemudian ludah merahnya sudah tertampung pada sebuah kaleng susu bekas. Baca lebih lanjut

Ellyda

Ellyda buru-buru membuka pintu kamar kos. Ada yang bergolak dasyat di dalam dadanya, sampai-sampai rongga perutya pun terasa penuh padahal ia belum makan siang. Ia terlalu kecewa dan tertekan. Kegagalan yang ia alami dalam sidang skripsi yang pertama ternyata terulang lagi. Adakah yang lebih memalukan dari itu?

Begitu masuk kamar tas dicampakkan begitu saja dan ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Di situ lantas ia tumpahkan air mata yang telah berusaha keras ia bendung sepanjang perjalanan pulang dari kampus. Perasaan marah, malu, dan putus asa bercampur jadi satu membuat pikirannya kalut bak benang kusut. Baca lebih lanjut

Sebuah Penantian

Matahari pukul empat sore masih terasa menyengat. Seperti biasa arus lalu lintas di sepanjang Jalan Cileduk Raya tampak padat. Kemacetan adalah hal biasa, sampai-sampai dijadikan kelakar bahwa Cileduk Raya itu biangnya kemacetan seantero Jakarta.

Yudo melompat turun dari sebuah bus Patas yang sarat penumpang. Dengan tangan kanan memegang gitar, yang barusan ia gunakan ngamen, ia terus berjalan di atas trotoar. Wajahnya tampak riang walaupun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya setelah ngamen sepanjang siang. Di bawah pohon mahoni yang cukup rindang kemudian ia berhenti lalu duduk dan menghitung perolehannya barusan. Baca lebih lanjut

Tampangnya mirip Vanness Wu, artis Taiwan yang kini sedang jadi idola kaum muda di tanah air. Mirip sekali. Aku berkenalan dengannya pada hari pertama kuliah, setelah selesai mengikuti Ordik setahun yang lalu. Terjadinya di kantin kampus. Gara-gara ia menyenggol meja, teh botol yang ada di atas meja terpelanting dan isinya muncrat mengotori bajuku.

Sejak kejadian itu aku selalu bertanya-tanya dalam hati: adakah ia sengaja melakukan hal itu agar dapat berkenalan denganku? Tidak hanya itu, ia juga membuatku jadi rajin ngaca, sampai suatu saat pernah kepergok sama Erly, adikku yang kelas dua es-em-u. Baca lebih lanjut

Surat Dari Bali

Wati melangkah tergesa sepanjang koridor kampus. Ia tidak habis pikir bagaimana sepucuk surat yang ditujukan pada dirinya bisa memakai alamat kampus. Ia merasa tak pernah menggunakan alamat kampus untuk urusan surat-menyurat. Dan surat yang sedang dipegangnya erat-erat itu dikirim oleh Tri Nugroho, sahabat karibnya ketika masih duduk di bangku sebuah SMU di Denpasar. Ada sensasi aneh mengalir dalam dirinya ketika melihat nama itu tertera pada muka amplop yang berwarna putih itu. Nama yang mendadak seakan-akan menguasai segenap ruang hatinya. Diam-diam ia merasa bersalah karena telah membiarkan Tri tidak tahu tentang keberadaan dirinya sejak kekecewaan itu menghantam dirinya. Baca lebih lanjut

Kudapati diriku terbaring lunglai berselimut dingin di sebuah ruangan. Asing rasanya, seperti sebuah aula dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar yang begitu kokoh. Ornamen-ornamen indah tampak menghiasi sekeliling dinding bagian atas dan langit-langit. Ah, aku tak yakin benar dengan penglihatanku dalam kondisi separuh sadar. Manakala kudengar suara air menetes-netes menikam sunyi, aku merasa seperti berada di dalam sebuah goa besar yang digelantungi banyak stalaktit.

Dalam kegamangan, arus hangat tiba-tiba terasa merambat dari ujung-ujung jemari kaki lalu mengalir ke telapak, pergelangan, betis, lutut, paha dan terus naik memberi pijatan-pijatan ritmis sampai ujung kepala.

Waktu merangkak perlahan. Tak ada siapa pun di sekitarku. Ketika kembali kutatap langit-langit ruangan, terasa ada sesuatu bergerak mendekat dari sisi kanan. Seseorang dengan langkah-langkah ringan tanpa suara. Begitu aku menoleh, ia telah berdiri di dekatku sambil mengulum senyum yang membuatku teringat pada lukisan terkenal Leonardo da Vinci: Mona Lisa. Baca lebih lanjut

Aku lahir di tengah keluarga pedagang. Ayah punya sebuah ruko di dalam pasar. Para pemilik ruko umumnya pendatang yang kemudian menetap dan menjadi bagian dari komunitas perantau yang heterogen. Lokasi yang kami tempati persis di jantung desa. Di seberang jalan raya yang membelah desa berdiri kantor polisi yang biasa kami sebut tangsi.

Letak ruko kami bersebelahan dengan toko-toko milik Kong Kaca, demikian nama panggilan seorang kakek keturunan Tionghoa yang selalu mengenakan kacamata putih. Di desa kami siapa pun kenal dia. Di samping memiliki banyak toko di bagian depan rumahnya, ia juga punya sawah yang membentang di belakang rumahnya sampai ke dasar lembah, bersebelahan dengan kebun kopi tetangga lain. Baca lebih lanjut

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai