Ellyda buru-buru membuka pintu kamar kos. Ada yang bergolak dasyat di dalam dadanya, sampai-sampai rongga perutya pun terasa penuh padahal ia belum makan siang. Ia terlalu kecewa dan tertekan. Kegagalan yang ia alami dalam sidang skripsi yang pertama ternyata terulang lagi. Adakah yang lebih memalukan dari itu?

Begitu masuk kamar tas dicampakkan begitu saja dan ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Di situ lantas ia tumpahkan air mata yang telah berusaha keras ia bendung sepanjang perjalanan pulang dari kampus. Perasaan marah, malu, dan putus asa bercampur jadi satu membuat pikirannya kalut bak benang kusut.

Yang dia inginkan di saat-saat seperti ini adalah menyendiri. Bahkan kalau bisa bersembunyi. Bersembunyi dari teman-teman, kenalan, saudara dan bahkan Mashudi, mahasiswa kelas karyawan yang telah lebih dulu ikut sidang dan dinyatakan lulus. Rasanya ia sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu mereka. Ia sudah terlalu malu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari nada deringnya ia tahu itu Mashudi. Ia pasti mau bertanya apakah Ellyda lulus atau tidak, tetapi Ellyda merasa tidak sanggup untuk menjawab. Kegagalan untuk kali yang kedua telah membuat kepercayaan dirinya terhempas sampai ke titik nol. Maka dikeluarkannya ponsel itu dari dalam tas lalu dipencetnya tombol “No”.

Ketika ia hendak membenamkan kepala di balik bantal, ponsel itu berbunyi lagi. Ellyda jadi kesal, ponsel itu dimatikan dan bahkan dilemparkan begitu saja ke atas meja.

“Persetan ama Uud! Persetan ama semuanya!” gerutunya lirih. “Gue gak mo diganggu. Gue pengen sendiri!”

“Sampai kapan?”

Ellyda kaget mendengar ada yang menanggapi gerutuannya. Spontan disingkirkannya bantal yang baru saja menutupi wajahnya. Dan ia terhenyak, hampir tak percaya pada penglihatannya. Di pintu, tampak Mashudi berdiri dengan santai. Seperti biasa, sebuah tas punggung tergelantung di bahunya.

Ellyda mengucek-ucek mata sebentar sebelum akhirnya bertanya dengan nada heran, “Sejak kapan elu di situ?”

“Belum lama sih,” jawab Mashudi kalem. “Ada apa sih, kok gak mo noleh waktu gue panggil-panggil tadi di kampus?”

Ellyda tidak saja membisu, tapi juga buang muka. Ini untuk pertama kalinya ia tidak menginginkan kehadiran Mashudi.

“Elu gak mo gue ada di sini?” tanya Mashudi yang menyadari gelagat tidak enak yang ditunjukkan Ellyda.

“Gue gak mo diganggu!” suara Ellyda ketus.

“Gue nggak ngganggu.”

“Tapi gue pengen sendiri!”

Setelah Ellyda kembali membenamkan wajahnya di balik bantal, tak ada lagi sahutan dari Mashudi. Suasana jadi sunyi. Tiba-tiba Ellyda sadar bahwa ia telah berbuat hal yang tidak patut pada Mashudi, mahasiswa yang begitu sabar dan penuh perhatian, yang dikenalnya sejak dua tahun lalu ketika mereka masih sama-sama di kelas reguler. Sejak dapat kerja, Mashudi pindah ke kelas karyawan. Namun hubungan di antara mereka tetap terjalin, bahkan semakin akrab.

Rasa bersalah mendorong Ellyda untuk segera meyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. Ia bangun dan mendapati Mashudi sudah tidak ada. Tiba-tiba hatinya terasa hampa. Ia merasa sangat kehilangan.

Ia segera bangun untuk mengejar Mashudi. Mungkin ia masih di depan. Tetapi Ellyda tidak melihat siapa-siapa ketika ia keluar dari kamar. Dengan wajah penuh penyesalan ia balik lagi ke kamar. Ponsel ia aktifkan kembali dan ia segera menghubungi Mashudi.

“Ada apa, Ell?” terdengar suara Mashudi, kalem seperti biasanya.

“Sori, gue gak bermaksud ngusir elu,” kata Ellyda dengan nada menyesal.

“Gue gak merasa diusir.”

“Tapi, kenapa elu pergi?”

“Gue gak pergi.”

“Maksud elu?!”

“Gue gak ke mana-mana.”

“Terus, elu ada di mana sekarang?”

“Di depan kamar elu.”

Ellyda penasaran. Ia cepat keluar kamar, dan benar Mashudi ada di sana, sedang duduk di kursi rotan.

“Aaaa, sebel! Elu ngerjain gue ya?” teriak Ellyda manja.

“Siapa yang ngerjain elu.”

“Tadi elu gak ada di sini. Sembunyi di mana? Ayo ngaku!”

“Gue gak sembunyi, orang lagi ke kamar kecil kok.”

“Sialan!” Ellyda mendekat lalu menjewer daun telinga Mashudi dengan gemas. Tetapi itu tak berlangsung lama, sebab ia khawatir diintip anak-anak kos sebelah.

“Elu itu sebenarnya kenapa sih, Ell? Kok aneh banget hari ini?” tanya Mashudi setelah Ellyda duduk dengan tenang di sebelahnya.

Ellyda tidak segera menyahut. Ia menekuri ujung kakinya beberapa jenak sebelum akhirnya memberi respons.

“Uud,” ujarnya sendu. “Elu sudah tau kan, kalo gue gak lulus lagi?”

“Memang kenapa kalo gak lulus lagi?” Mashudi balik bertanya.

“Elu gak malu punya pacar goblok kayak gue?”

“Elu itu gak lulus bukan karena goblok, Ell. Cuman belum siap aja. Kan gue udah bilang ama elu, mendingan elu ambil semua mata kuliahnya dulu. Kalo sudah abis baru maju. Tapi, elu gak mo degerin gue sih.”

“Tapi gue kan mo lulus bareng ama elu.”

“Buat apa?”

“Biar bisa wisuda bareng.”

“Ya, tapi buat apa?”

“Elu kok gak ngerti sih? Kalo gue wisuda, orang tua gue kan datang ke Jakarta. Gue pengen sekalian ngenalin elu ama mereka.”

“Kenapa mesti waktu wisuda? Emang gak bisa pada kesempatan lain?”

“Bisa sih. Tapi, rasanya lebih bangga kalo bisa lakukan itu waktu wisuda.”

“O, begitu ya. Tapi, mimpi itu gak bisa jadi kenyataan kan?”

“Ya, gue nyesel dan baru sadar sekarang, bahwa segala sesuatu yang dipaksakan pasti gak bakalan menghasilkan sesuatu yang baik.”

“Bagus. Coba kalau kesadaran itu nggak terlambat datangnya, pasti elu nggak berantakan kayak begini.”

“Berantakan gimana?”

“Coba deh ngaca sana.”

Spontan Ellyda menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Gak mau. Gue tau, gue pasti keliatan kusam, jelek,” Ellyda merajuk. “Biarin, kalo elu mo cari yang lain silakan.”

“Lo, kok jadi ngambek? Siapa yang mau cari yang lain? Tapi, kalo elu maksa, apa boleh buat, terpaksa gue nyari yang lain,” goda Mashudi.

“Aaa…, sebelll!” teriak Ellyda sambil menjulurkan tangan untuk menjewer kuping Mashudi. Kali ini teriakannya cukup keras, sampai membuat anak-anak kos sebelah menjulurkan kepala lewat jendela kamar masing-masing.***