Aku baru pulang dari kantor sore itu. Pas ketika aku berdiri di depan pintu rumah, ponselku berbunyi.

“Mas Pri?” terdengar suara seorang perempuan di seberang sana begitu ponsel kutempelkan di telinga.

“Ya, dengan siapa ini?” tanyaku ingin tahu sebab yang tampak di layar ponsel tadi hanya nomor telepon, tak ada nama.

“Byuti,” jawabnya.

“Byuti?”

Rasanya tidak ada temanku yang punya nama begitu, tapi ia menyapaku dengan nada akrab dan aku pun merasa kenal dengan suaranya.

“Ya. Sudah baca iklan itu?”

“Iklan apa?” aku menyahut sambil terus berusaha menebak siapa gerangan orang yang sedang meneleponku.

Ia menyebutkan sebuah iklan yang dimuat sebuah harian terbitan Ibu Kota. Iklan tentang kedatangan seorang tokoh spiritual yang akan memberikan ceramah di sebuah hotel berbintang di kawasan Sudirman. “Datang ya? Gratis lo,” imbuhnya menyemangati. Baca lebih lanjut