Aku baru pulang dari kantor sore itu. Pas ketika aku berdiri di depan pintu rumah, ponselku berbunyi.
“Mas Pri?” terdengar suara seorang perempuan di seberang sana begitu ponsel kutempelkan di telinga.
“Ya, dengan siapa ini?” tanyaku ingin tahu sebab yang tampak di layar ponsel tadi hanya nomor telepon, tak ada nama.
“Byuti,” jawabnya.
“Byuti?”
Rasanya tidak ada temanku yang punya nama begitu, tapi ia menyapaku dengan nada akrab dan aku pun merasa kenal dengan suaranya.
“Ya. Sudah baca iklan itu?”
“Iklan apa?” aku menyahut sambil terus berusaha menebak siapa gerangan orang yang sedang meneleponku.
Ia menyebutkan sebuah iklan yang dimuat sebuah harian terbitan Ibu Kota. Iklan tentang kedatangan seorang tokoh spiritual yang akan memberikan ceramah di sebuah hotel berbintang di kawasan Sudirman. “Datang ya? Gratis lo,” imbuhnya menyemangati.
Sampai masuk kamar mandi, aku belum dapat memastikan siapa yang meneleponku tadi. Kalau salah sambung rasanya tak mungkin. Ia tahu namaku.
Pagi-pagi ketika tiba di kantor, kusempatkan diri menghampiri tempat koran di pojok ruang tunggu. Kebetulan koran-koran yang tergantung di situ masih edisi kemarin, belum diganti dengan edisi terbaru. Kulepaskan salah satu koran dari jepitan kayu lalu kubawa ke dalam ruangan. Kuperiksa halaman demi halaman seperti mencari kutu sampai akhirnya menemukan iklan itu. Sebuah iklan kecil, hanya dua kolom, yang berisi ajakan untuk bersama-sama mengalami sesuatu yang dilukiskan sebagai signifikan.
Karena desakan rasa ingin tahu yang besar, lagipula diadakan setelah jam kantor, kuputuskan untuk datang.
Sampai di depan pintu ballroom seorang perempuan berpakaian sari menyambutku dengan senyum.
“Maaf, bisa matikan henponnya sebelum masuk?” pintanya dalam bahasa Inggris logat India, dengan air muka yang memancarkan keceriaan. Wajahnya yang oval manis mengingatkanku pada Sushmita Sen, artis India mantan Miss Universe itu.
“Tentu saja,” jawabku dan segera mematikan ponsel.
Ia mengucapkan terima kasih lalu menyodorkan sebuah keranjang mungil berisi potongan-potongan kertas untuk menuliskan sesuatu yang ingin kutanyakan nanti pada penceramah. Kuambil selembar sebelum akhirnya melangkah ke dalam dengan perasaan takjub.
Apa tidak salah? Ruangan yang begitu mewah dan punya daya tampung yang kuperkirakan tak kurang dari seribu orang dipilih untuk menyelenggarakan acara spiritual? Sebegitu banyakkah warga Jakarta yang peduli pada urusan yang tidak menghasilkan uang ini? Tak bosan-bosannya aku mengedarkan pandangan setelah duduk pada sebuah kursi, sementara petikan-petikan sitar terdengar mengawang-awang meneduhkan hati.
Kulihat orang-orang datang mengisi kursi-kursi yang kosong. Tak kubiarkan seorang pun yang luput dari pengamatanku. Aku berharap akan ada seorang perempuan di antara mereka yang sedang mencari-cariku dan begitu melihatku ia akan segera mendekat dan bilang bahwa dialah yang meneleponku kemarin.
Setelah terdengar pengumuman bahwa acara akan segera dimulai, orang-orang yang masuk ke ruangan tidak lagi satu-dua orang tetapi banyak, serempak bagai air bah menyerbu kursi-kursi yang masih kosong. Ternyata banyak yang tidak kebagian kursi dan terpaksa berdiri. Salah seorang dari mereka ternyata kukenal.
“Hei, nggak dapat kursi ya?” tanyaku. Aku langsung berdiri dan minta ia mengambil-alih kursiku.
“Saya tidak perlu kursi,” ia menggeleng sambil tersenyum.
“Kamu yang nelpon kemarin?” tanyaku spontan.
“Mungkin.”
“Kok mungkin?”
“Banyak sekali yang harus kuhubungi.”
Kuperhatikan ada tanda di dadanya yang membuatku tahu bahwa dia anggota panitia.
“Oh, sedang bertugas rupanya,” gumamku.
Ia mengangguk tipis dan tak lupa tersenyum.
“Maaf ya, aku tinggal dulu,” ia lalu pergi dengan tergesa-gesa dan meninggalkan tanda tanya di benakku. Setahuku namanya bukan Byuti tetapi Swity.
Aneh! Kenapa aku tak bisa berhenti memikirikannya? Sampai-sampai aku ta bisa memusatkan perhatian pada penceramah yang telah berdiri di atas panggung. Aku seperti kena sihir saja. Ah, aku datang ke hotel ini untuk dia atau untuk mendengarkan ceramah? Akhirnya aku sadar kalau telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Buang-buang waktu.
Ketika hendak mendekati eskalator untuk turun, perempuan yang berpakaian sari itu menghadangku lagi sambil tersenyum.
“Kami menyediakan makan malam, silakan turun lewat tangga sebelah kanan,” katanya menawarkan.
“Tidak, terima kasih,” tolakku dengan halus.
“Anda yakin?” desaknya.
Sebelum sempat menjawab kudengar seseorang memanggil namaku. Ia sudah berada di belakangku secepat aku memalingkan wajah. Ia tersenyum menatap lurus ke bola mataku.
Aku tidak segera mengenalinya. Kuamati dia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku hampir tak percaya kalau dia, yang terbalut gaun malam yang menyebabkan ia tampak begitu anggun, adalah perempuan yang pernah kukenal.
“Kamu Tika kan? Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Kamu sendiri ngapain ke sini?” balasnya sengit sambil melengos..
Sejenak aku terpaku sebelum akhirnya tersenyum sendiri karena aku tahu siapa dia. Tetapi bagaimana ia bisa sampai ke sini?
“Pulang ke mana?” tanyanya.
“Kebayoran Lama. Kamu?”
“Kebun Jeruk. Naik apa?”
“Taksi.”
“Kita searah. Mau bareng?”
Aku ragu dan tak segera menjawab.
Ia tak peduli. Ia segera beanjak menuju meja valet park. Aku diliputi perasaan was-was. Cepat aku menyusul dan siap mencegah kalau ia berbuat yang bukan-bukan. Tetapi dugaanku keliru. Ia berdiri anteng saja setelah sempat bicara dengan petugas yang ada di situ. Tak lama kemudian sebuah sedan warna biru metalik berhenti persis di depan kami. Begitu petugas parkir yang mengemudikan mobil turun, Tika langsung menggantikan.
“Yuk!” ajaknya begitu duduk di belakang stir.
Aku bimbang.
“Mau ikut nggak?” desaknya.
Aku berlari kecil mengitari mobil untuk kemudian membuka pintu mobil sebelah kanan. Aku lalu duduk di sebelahnya. Menghadapi kenyataan yang tidak terduga dan sulit dipercaya, aku kehilangan kata-kata. Bukan hanya itu, aku bahkan merasa sedang bermimpi. Tika yang kukenal beberapa bulan lalu bukanlah Tika yang keren seperti ini. Ia hanya seorang perempuan yang perlu dikasihani.
Aku bertemu dengannya secara kebetulan ketika aku ikut acara pelayanan sosial ke sebuah panti asuhan milik pemerintah. Waktu itu kami sedang memberikan sumbangan makanan dan pakaian untuk para penghuni yang terganggu ingatannya. Konon mereka diciduk dari jalanan. Aku dan beberapa teman sempat masuk ke barak-barak penampungan bagi mereka yang tergolong mengalami gangguan berat.
Keadaan mereka begitu memprihatinkan. Tinggal bersama dalam barak yang mirip sel tahanan, begitu kotor dan hampir semua penghuninya tertular kudis. Dapat kulihat jelas semua itu pada mereka yang tidak mengenakan selembar pakaian pun.. Tatapan mereka yang kosong membuat dadaku terasa sesak. Tak tahan menghadapi semua itu, aku langsung ke luar dari barak.
Di taman depan, aku lalu ngobrol dengan salah seorang petugas yang sedang santai menikmati asap rokok. Tak jauh dari bangku kami, ada bangku lain yang terbuat dari beton juga di bawah sebatang pohon mangga. Ada seorang perempuan duduk di situ. Beberapa kali kutenggarai ia mencuri pandang ke arahku, sepertinya aku ini kenalannya.
“Siapa dia, Pak?” tanyaku pada petugas yang terus saja mengepul-ngepulkan asap rokoknya.
“Penghuni,” jawabnya. “Tapi yang satu ini agak lain. Sepertinya tidak gila, bahkan kadang tampak begitu cerdas.”
“Boleh saya ngobrol dengannya?”
Ia mengisap rokoknya lagi dan setelah menghembuskan asapnya ke udara, ia menyeringai nakal. “Ia memang cantik. Silakan kalau mau,” ujarnya.
Dalam beberapa detik aku telah berdiri di dekat perempuan yang kuperkirakan berumur sekitar tiga puluhan itu. Kulihat ia sedang menulis sesuatu pada sebuah buku kecil, sebesar buku harian. Ia tidak peduli pada kedatanganku dan terus saja menulis. Sempat kuperhatikan tahi lalat kecil yang menempel di dagunya sebelah kanan dan hidungnya yang sedikit mancung. Wajah yang menarik, tetapi kulitnya yang bersih tampak kontras dengan kaus lusuh dan jin belel yang dikenakannya. Pakaian itu tampak seperti tak pernah dicuci.
“Boleh ikutan duduk di sini?” ujarku dengan nada bersahabat.
Ia sama sekali tidak kaget. Ia berhenti menulis dan dipersilakannya aku duduk di sebelahnya. Yang kemudian terkejut malah aku sendiri setelah disodok pertanyaan: “Habis lihat teman-teman saya ya? Bagaimana rasanya melihat perempuan seperti itu?”
Aku tidak menjawab, tapi balik bertanya, “Sedang menulis apa?”
Dengan sikap cuek ia menyodorkan sebuah dompet berwarna hitam ke arahku. “Ini punya Mas?”
Aku bengong. Dompetku! Kenapa bisa ada di tangannya?
“Saya temukan di pintu barak tadi,” katanya seperti dapat membaca pikiranku.
Aku cepat meraihnya. Kecurigaan membuatku cepat-cepat memeriksa isinya.
“Saya tak mengambil apa pun,” terusnya sambil tetap menekuni bukunya.
Isi dompetku masih utuh, termasuk fotoku yang terpampang di bagian depan.
“Terima kasih, kamu baik sekali. Eh, namanya siapa?”
“Tika. Mas sendiri?”
Tiba-tiba ia melemparkan buku kecil bersampul biru itu ke pangkuanku, dan buku itu jatuh ke tanah karena aku tak sigap menangkapnya.
“Pri. Pribadi,” jawabku setelah memungut buku.
”Mas percaya nggak kalau saya sudah menunggu kedatanganmu dari kemarin-kemarin?”
Aku sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak masuk akal seperti ini. Yah, namanya juga berhadapan dengan orang yang tidak waras. Namun agar ia mau bicara terus denganku, aku mengangguk.
“Buku itu untuk Mas Pri, hanya untuk Mas Pri! Jangan sampai terbaca orang lain.”
Aku menatapnya lebih cermat. Ia tidak tampak seperti orang gila. Cuma omongannya yang ceplas-ceplos itu membuatku ragu, apakah itu gejala gangguan jiwa atau sesuatu yang lain?
“Ini buku harian Tika?”
Ia belum menjawab ketika kudengar panggilan dari salah seorang teman bahwa rombongan kami akan segera balik. Aku memberi isyarat dengan tangan supaya ditunggu sebentar.
“Sebenarnya saya masih ingin ngobrol, tapi saya harus balik,” kataku dan secara impulsif kemudian menyelipkan buku yang ia berikan ke balik baju setelah terlebih dahulu membuka kancing di bagian dada. Sesudah itu kukeluarkan selembar kartu nama dari dompet dan kuberikan padanya.
Sampai di atas mobil Yono mengolok-olokku. “Ternyata kamu rentan juga. Bisa tertular secepat itu.”
“Tertular apaan?”
“Kukira hanya orang yang sama-sama tidak waras yang mau bertukar kartu nama.”
“Ah, sialan!”
Tiba di rumah aku tak dapat menahan tawa. Aku menertawakan diriku sendiri yang sempat terbawa hanyut oleh perasaan. Memang, kupikir hanya seorang idiot yang mau membagikan kartu nama pada seorang yang mengidap gangguan jiwa.
Tubuhku terlonjak ke depan karena mobil mendadak berhenti. Kalau tidak mengenakan sabuk pengaman pasti kepalaku sudah membentur kaca.
“Uf! Ada apa?” Aku kaget.
“Ini sudah Kebayoran Lama. Rumahnya di mana?” Ada nada kesal dalam kata-kata Tika yang membuatku jadi malu.
“Oh, maaf. Saya ngantuk tadi.”
“Ngantuk apa melamun?”
Aku menyapukan pandangan ke luar. Ternyata mobil berhenti beberapa jarak dari gang menuju rumahku.
“Saya turun di sini saja.”
“Rumahnya yang mana?”
“Di dalam sana,” aku menunjuk gang yang membujur di sebelah kiri kami. “Mobil tak bisa masuk ke sana. Maaf, saya tak menawari Tika mampir.”
“Kenapa?”
“Larut malam begini tak enak mengajak perempuan mampir.”
“Karena Mas Pri duda?”
Aku terperangah.
“Hei, dari mana Tika tahu?” Rasa heran membuatku memandanginya dengan tajam. Kulihat ia tersenyum di antara kelebatan cahaya lampu dari mobil-mobil yang lewat di ruas jalan sebelah.
“Selama belum baca buku itu, Mas Pri akan selalu berlaku bodoh di depan saya. Kenapa nggak dibaca?”
Aku kelabakan.
“Oh…, anu… Saya perlu waktu yang tepat untuk membacanya,” kilahku.
“Terlalu banyak bohong tak baik untuk kesehatanmu, Mas Pri.”
Aku tercekat. Siapakah sebenarnya perempuan di sampingku ini? Ia tahu sesuatu yang tak terpikirkan olehku. Beberapa bulan yang lalu ia jadi penghuni tempat penampungan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa dan kini tampil seperti bidadari.
“Berani jalan sendiri?” godanya sambil memandangiku dari atas mobil ketika aku sudah berdiri di mulut gang.
“Saya laki-laki,” jawabku. Setelah melambaikan tangan, aku lalu membalikkan badan dan terus melangkah menyusuri gang yang hanya mendapat penerangan dari cahaya lampu rumah sebelah-menyebelah, sementara itu kudengar suara deru mobil Tika semakin jauh.
Sampai di rumah aku langsung mengobrak-abrik rak buku. Aku tak ingat di mana buku pemberian Tika kusimpan. Jangan-jangan sudah kubuang ke tong sampah. Aku bolak-balik antara kamar dan ruang tamu. Setelah lelah mencari tanpa hasil, aku terduduk lemas di lantai kamar. Pada saat mengedarkan pandangan, kulihat buku itu tergeletak di sudut ruangan dekat kaki meja. Perasaan tidak sabar segera menghapus kelelahanku dan kupungut buku yang telah berdebu itu lalu cepat kubuka.
Aku tak percaya pada penglihatanku. Benarkah ini? Buku yang ada di tanganku kosong. Tak ada satu kalimat pun tertera di dalamnya.
Cepat kukeluarkan ponsel dan kucomot kartu nama yang ia berikan tadi ketika aku hendak turun dari mobil. Beauty Majestika, demikian nama yang tercetak dengan tinta emas di atas karu berwarna putih. Oh, jadi dia yang meneleponku kemarin?***
