Category: CERPEN


Kudapati diriku terbaring lunglai berselimut dingin di sebuah ruangan. Asing rasanya, seperti sebuah aula dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar yang begitu kokoh. Ornamen-ornamen indah tampak menghiasi sekeliling dinding bagian atas dan langit-langit. Ah, aku tak yakin benar dengan penglihatanku dalam kondisi separuh sadar. Manakala kudengar suara air menetes-netes menikam sunyi, aku merasa seperti berada di dalam sebuah goa besar yang digelantungi banyak stalaktit.

Dalam kegamangan, arus hangat tiba-tiba terasa merambat dari ujung-ujung jemari kaki lalu mengalir ke telapak, pergelangan, betis, lutut, paha dan terus naik memberi pijatan-pijatan ritmis sampai ujung kepala.

Waktu merangkak perlahan. Tak ada siapa pun di sekitarku. Ketika kembali kutatap langit-langit ruangan, terasa ada sesuatu bergerak mendekat dari sisi kanan. Seseorang dengan langkah-langkah ringan tanpa suara. Begitu aku menoleh, ia telah berdiri di dekatku sambil mengulum senyum yang membuatku teringat pada lukisan terkenal Leonardo da Vinci: Mona Lisa. Baca lebih lanjut

Aku lahir di tengah keluarga pedagang. Ayah punya sebuah ruko di dalam pasar. Para pemilik ruko umumnya pendatang yang kemudian menetap dan menjadi bagian dari komunitas perantau yang heterogen. Lokasi yang kami tempati persis di jantung desa. Di seberang jalan raya yang membelah desa berdiri kantor polisi yang biasa kami sebut tangsi.

Letak ruko kami bersebelahan dengan toko-toko milik Kong Kaca, demikian nama panggilan seorang kakek keturunan Tionghoa yang selalu mengenakan kacamata putih. Di desa kami siapa pun kenal dia. Di samping memiliki banyak toko di bagian depan rumahnya, ia juga punya sawah yang membentang di belakang rumahnya sampai ke dasar lembah, bersebelahan dengan kebun kopi tetangga lain. Baca lebih lanjut

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai