Kudapati diriku terbaring lunglai berselimut dingin di sebuah ruangan. Asing rasanya, seperti sebuah aula dengan langit-langit tinggi dan pilar-pilar yang begitu kokoh. Ornamen-ornamen indah tampak menghiasi sekeliling dinding bagian atas dan langit-langit. Ah, aku tak yakin benar dengan penglihatanku dalam kondisi separuh sadar. Manakala kudengar suara air menetes-netes menikam sunyi, aku merasa seperti berada di dalam sebuah goa besar yang digelantungi banyak stalaktit.
Dalam kegamangan, arus hangat tiba-tiba terasa merambat dari ujung-ujung jemari kaki lalu mengalir ke telapak, pergelangan, betis, lutut, paha dan terus naik memberi pijatan-pijatan ritmis sampai ujung kepala.
Waktu merangkak perlahan. Tak ada siapa pun di sekitarku. Ketika kembali kutatap langit-langit ruangan, terasa ada sesuatu bergerak mendekat dari sisi kanan. Seseorang dengan langkah-langkah ringan tanpa suara. Begitu aku menoleh, ia telah berdiri di dekatku sambil mengulum senyum yang membuatku teringat pada lukisan terkenal Leonardo da Vinci: Mona Lisa. View full article »
