Wati melangkah tergesa sepanjang koridor kampus. Ia tidak habis pikir bagaimana sepucuk surat yang ditujukan pada dirinya bisa memakai alamat kampus. Ia merasa tak pernah menggunakan alamat kampus untuk urusan surat-menyurat. Dan surat yang sedang dipegangnya erat-erat itu dikirim oleh Tri Nugroho, sahabat karibnya ketika masih duduk di bangku sebuah SMU di Denpasar. Ada sensasi aneh mengalir dalam dirinya ketika melihat nama itu tertera pada muka amplop yang berwarna putih itu. Nama yang mendadak seakan-akan menguasai segenap ruang hatinya. Diam-diam ia merasa bersalah karena telah membiarkan Tri tidak tahu tentang keberadaan dirinya sejak kekecewaan itu menghantam dirinya. Baca lebih lanjut