Ellyda buru-buru membuka pintu kamar kos. Ada yang bergolak dasyat di dalam dadanya, sampai-sampai rongga perutya pun terasa penuh padahal ia belum makan siang. Ia terlalu kecewa dan tertekan. Kegagalan yang ia alami dalam sidang skripsi yang pertama ternyata terulang lagi. Adakah yang lebih memalukan dari itu?
Begitu masuk kamar tas dicampakkan begitu saja dan ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Di situ lantas ia tumpahkan air mata yang telah berusaha keras ia bendung sepanjang perjalanan pulang dari kampus. Perasaan marah, malu, dan putus asa bercampur jadi satu membuat pikirannya kalut bak benang kusut. Baca lebih lanjut
