Aku lahir di tengah keluarga pedagang. Ayah punya sebuah ruko di dalam pasar. Para pemilik ruko umumnya pendatang yang kemudian menetap dan menjadi bagian dari komunitas perantau yang heterogen. Lokasi yang kami tempati persis di jantung desa. Di seberang jalan raya yang membelah desa berdiri kantor polisi yang biasa kami sebut tangsi.

Letak ruko kami bersebelahan dengan toko-toko milik Kong Kaca, demikian nama panggilan seorang kakek keturunan Tionghoa yang selalu mengenakan kacamata putih. Di desa kami siapa pun kenal dia. Di samping memiliki banyak toko di bagian depan rumahnya, ia juga punya sawah yang membentang di belakang rumahnya sampai ke dasar lembah, bersebelahan dengan kebun kopi tetangga lain. Baca lebih lanjut