“Sebenarnya kita pernah kaya,” kata Ayah tatkala kutemani duduk-duduk di bale gede pada suatu siang yang panas. Aku ingat waktu itu bulan Oktober, entah tahun berapa. Matahari musim kemarau begitu garang menyengat permukaan bumi. Kalau tidak berada di bawah lindungan bale gede yang beratap ilalang tebal tentu kami tak tahan mengenakan baju. Bale gede memang tempat yang nyaman untuk berangin-angin, sebab setengah sisinya terbuka.
“Rumah ini jadi salah satu petunjuknya,” lanjut Ayah sembari meraih selembar daun sirih di pabuan yang ada di depannya. Setelah diolesi kapur dan dicampuri serpihan gambir serta biji pinang, daun itu lalu dilipatnya dan dikunyahnya pelan-pelan. Beberapa jenak kemudian ludah merahnya sudah tertampung pada sebuah kaleng susu bekas. Baca lebih lanjut
